Tampilkan postingan dengan label bersyukur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bersyukur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 November 2011

Taman Kanak-kanak tempat yang paling indah..

Hari ini Jumat ini adalah tanggal 25 dimana para pegawai bank dan beberapa perusahaan swasta telah menerima gaji. Saatnya shopping,bayar cicilan kredit,bayar listrik dan sebagainya. Tetapi gajian saya mana ya? Karena orang baru mungkin gajiannya beda kali ya,dipotong sana-sini dan dibayar agak telat. Hiksss.. Sejenak sambil melupakan masalah gaji, sambil mengingat-ingat bahwa kemarin saya mengunjungi dua buah TK. Yakkk..TK alias Taman Kanak-kanak dimana banyak anak-anak yang sekolah dan bermain. Pasti bingung ya,kenapa saya menyambangi (kok menyambangi yaa..emang jambangnya ridho rh*ma ya??) TK. Karena ada beberapa hal yang berurusan dengan pekerjaan dan sesuatu hal,saya dan atasan saya mampir ke sana. Pertama adalah TK Islam Al M***na. TK ini ga terlalu besar sih,dan karena TK muslim maka beberapa anak-anaknya khususnya perempuan memakai jilbab. Ketika sedang melakukan pembicaraan dengan pihak sekolah terkait pekerjaan,ada seseorang anak kecil cowok yang manjanya minta ampun. Sepertinya anak ini adalah anak dari kepala sekolah karena begitu lengket kayak upil ma idung. Kemudian anak itu mendekatiku. Kita sebut anak kecil itu adalah si anak X dan sebut saya si ganteng (hhaha..ga usah sirik,skali-skali muji diri sendiri kan ga dosa).

Si anak X : “Mas..ini apa??” sambil megang-megang di atas kantong baju sebelah kiri.

Si Ganteng : bingung dia melihat apa dan memegang dalam rangka apa. *curiga* karena ingatlah bahwa anak memiliki sgala cara untuk nakal dan menakali kita saking lucunya. “Apa dik?”

Si anak X : “Itu lho mas..bintang ya?” sembari mencoba melepaskan bintang yang terpasang di bajuku yaitu sebuah bros identitas kantor yang harus slalu dipakai ketika di kantor. Sekilas mirip Sheriff di pilem-pilem koboi gitu hhehe.

Si Ganteng : “iya ini bintang..hhehe.” sambil mencoba mengalihkan pembicaraan di kala itu. “itu bawa uang mau jajan apa?”

Si anak X : Masih dengan matanya menatap bros kantor yang terpasang rapi di bajuku. Berharap saya memberikan kepadanya kali ya..(enak aje..ntar di denda kantor kalo ilang)

Untung si bos langsung mengajak untuk beranjak dari terkaman anak kecil tadi beserta tempat TK bernaungnya (halaahhh). Berlanjut menuju TK yang satunya..yayasan sekolah ini berada di daerah Erlangga tepatnya adalah bersebelahan dengan universitas negeri yang terkenal di Semarang yaitu Unika..praaaakkkk..dudu kuwi ndeengg..maksudnya universitas Diponegoro. Karena sudah beranjak siang jadi TK tampak sepi dan hanya bertemu kepala sekolahnya.

Hari ini,saya menuju ke TK di daerah Erlangga untuk sesuatu urusan setelah pembicaraan kemarin. Rencana TK ini akan mengadakan pemecahan MURI dimana akan ada sekitar seribu dengan APE (Alat Peraga Edukatif) yaitu anak dan orang tua akan melakukan dengan APE tersebut. Sembari menunggu kepala sekolah yang sedang sibuk dan belum ada di tempat saya dan si bos menunggu di sebuah ruangan yang bersebelahan dengan kantin kecil. Ada seseorang anak kecil kita sebut Si anak Y dan bu guru yang merangkap sebagai penjaga kantin dengan sebutan Ibu Imut.

Si anak Y: “Bu ika..mau beli jajan.”

Si ibu imut: “jajan apa kak??” tanyanya dengan sangat sangat halus sekali.

Si anak Y: “Beli permen ini..yang ini.” Sambil menunjuk sebuah toples berisi permen dan juga memberikan sebuah uang logam.

Si Ibu imut: “Ohh..permen ini,nih ambil sendiri yaa. Kakak ambil empat ya kak.” Karena uang yang diberikan si anak Y hanya dapat membeli empat buah permen.

Si anak Y: “Aku maunya tiga.” Sambil sedikit merengek dan mengambil sendiri ke dalam toples dan kesulitan.

Si ibu imut: “Dapatnya empat kakak.” Melihat si anak Y tetap merengek. “Ya udah,permen satunya dikasih ke ibu X yaa.” Dan akhirnya si anak Y hanya membawa tiga biji permen dan satunya diberikan ibu X. Kemudian sambil berlalu dan tersenyum-senyum. (Udah gila ini anak kayaknya..lha wong dikasih empat malah minta tiga,pake ketawa lagi ckckckck..)

si anak-anak yang antri dijemput..dan tampak ibunya jual mahal ketika di poto..ckckckck.

Ada lagi yang main usil,udah tahu pintunya satu dan ada anak yang mau lewat malah dihalang-halangin lagi. Sampai si anak menjerit-jerit dan berkata “Awaasss...awaaassss...”. Hedeeeehhhh. Trus ada satu anak perempuan yang tiba-tiba berada di hadapanku lalu tersenyum. Saya hanya terbengong,ini anak kenapa kok tiba-tiba senyum bahkan kenal aja tidak deh. Saya pun memberikan senyum saya yang termanis..nisss. :) Truz di ujung gerbang masuk,ibu guru memanggil dengan speaker untuk penjemput si anak yang mau keluar pintu. Saya rasa hal ini untuk menanggulangi penculikan serta lebih mengenal orang tua yang bersangkutan. Nice prevention.

antri buat pakai sepatunya yaa..cari yang bagus aja..dan ini anak cewek yang smile to me.. :)

Hmmmm..saya jadi teringat dengan salah satu obsesi saya sebelumnya yaitu menjadi guru TK. Saya pengen menanamkan kepada anak-anak penerus bangsa ini bahwa mereka adalah para calon pemimpin bagi negara mereka (haiaahhh..lebay ndeeng) hhehe. Kayaknya seru aja gitu,kumpul bareng anak-anak kecil. Bermain sambil belajar dan mengenalkan hal-hal baru. Menurut saya ada beberapa suka duka deh. Sukanya adalah bertemu anak-anak kecil yang lucu, tersenyum slalu dan kita slalu benar karena kan anak kecil juga ga tahu ini itu serta jika kita salah kan mereka ga akan pernah tahu hhahaha. Nah sekarang dukanya yaitu jika kita salah memberikan pemahaman maka ampe gedhe si anak akan terdogma dengan penjelasan kita semasa TK.

Karena sepengetahuan saya bahwa anak usia 1-3 tahun memiliki masa sedang serba ingin tahu. Dan daya berpikirnya serta daya tangkapnya 3x lebih cepat dibandingkan dengan usia setelahnya. Ada lagi nih yang bikin saya mikir beribu kali buat jadi seorang guru TK yaitu ketika si anak boker. Nahhhh lhoooo... bukan masalah bokernya tapi setelah bokernya ntu yang menjadi masalah. Pan kudu dicebokin thu? Truz si anak kan ga bisa nyebokin sendiri thu,masa iya kudu orang tuanya? Kudu gurunya kan skalian sembari ngajari nyebok. Masih mending anak kita sendiri gitu, nah itu kan anak orang lain. Iya kalo Cuma satu,misal lagi musim anak boker. Satu kelas isi 30 anak kebelet poop semua..huaaaaa..#cungkruk! Pernah diceritain temennya temen yang jadi guru TK. Kejadiannya sama pas ada anak TK didikannya yang boker gitu. Dia udah biasa nyebokin anak TK pake KAKI..#gubraaaakkkk. Mampus dah,misal thu anak laporan ma mamanya di rumah gimana coba.

“Mah..tadi adik e’ek di sekolah tluz abis e’ek tadi bu gulu ngelus-elus pantat adik pake kaki gitu.”

Bayangkan jika mama itu lalu menjawab,”hahh?? Di elus-elus?” sambil berpikiran parno dan mama anak itu berpikir jika guru anaknya adalah seorang pedofilia..naaahhhh thuu. Tapi apapun itu masa kanak-kanak adalah masa yang paling indah. Adakah yang ingat dengan masa kecilnya??? :D

Rabu, 09 November 2011

My own trip..edisi Wonogiri..


Sendiri menempuh puluhan kilometer dengan bekal seadanya. Iyaa,saya pernah melakukannya bersama sepeda lipat saya. Saya bercerita hanya mau berbagi pengalaman dengan teman-teman yang siapa tahu ingin mencoba melakukan bersepeda dengan jarak agak jauhan hhehe. Walaupun bukan seorang atlit dan saya hanya seorang yang iseng kok. Perjalanan ini saya sebut perjalanan tapak tilas, karena sebenarnya ga ada niatan melakukannya (lhohh..ga ada hubungannya dengan tapak tilas mas). Suatu saat saya memiliki rencana untuk membawa seli ke rumah eyang di Wonogiri. Kebetulan saat itu adalah hari liburan agak panjang, karena ada harpitnas (hari kejepit nasional). Yaitu hari yang cocok buat bolos dan refreshing. Hari selasa ternyata hari kemerdekaan RI dan berarti tanggal merah lalu seninnya kecepit donk..kasihan..bolos aja yaa skalian dan skali-skali hhehe. Setelah mendapat restu orang tua,akhirnya saya berangkat juga. Dari semarang kira-kira pukul 06.00 WIB. Sepeda telah terlipat dan siap mencegat bis. Bis berwarna hijau telah berhenti dan ku masukan seli (sepeda lipat) ke dalam bagasi di bagian samping bis. Karena hari minggu pagi, kondisi bis sangat sepi. Saya memutuskan duduk di belakang dan diajak ngobrol dengan kondektur bis. Mulai bertanya dari masalah harga seli hingga tanya saya punya pacar atau ga (buseeettt...). Perjalanan sangat lancar dan saya turun di kota Solo pukul 08.00 WIB. Setelah sepeda saya turunkan dan membuka lipatan serta meletakkan tas pannier (tas yang dibawa pada sepeda) ke tempatnya. Isi tas pannier saya saat itu sedikit banyak,selain baju-baju untuk tiga hari serta peralatan bersepeda jika ada kerusakan di jalan atau ban bocor. Pagi itu mencoba menyusuri jalan yang paling terkenal sekota Solo yaitu jalan Slamet Riyadi. Jalan ini membentang dari tugu stasiun Purwosari hingga patung jenderal soedirman. Ternyata jalanan ini sangat sepi..tidak ada motor skalipun dan ternyata pemerintah Solo sedang getol-getolnya ngadain Car Free Day yaitu hari pemberian mobil gratia (preeeetttt...) maksudnya hari bebas kendaraan bermotor gitu. Setelah menyusuri sejenak acara Car Free Day, saya memutuskan akan mengayuh sepeda saya ini menuju Wonogiri. Jarak yang ditempuh sekitar 30-40KM perjalanan nyantai. Kondisi jalan yang variatif,menanjak,bergelombang dan sempit. Saya mulai mengayuh perlahan dan perut terasa sangat lapar dan baru teringat bahwa pagi itu saya belum sarapan. Kemudian saya memutuskan untuk sarapan di Sop Ayam Pak Min. Sop di kala pagi itu sangat menyegarkan deh. Tidak lama berselang saya melanjutkan perjalanan. Matahari mulai terasa menyengat dan tiba di tanjakan dengan kemiringan 50 derajat dan melandai. Nafas mulai tidak beraturan. Akhirnya selama dua jam mengayuh, sampai juga di rumah eyang dan sempat terbengong-bengong apakah cucunya tersebut beneran gowes sepeda. Maklum baru kali itu saya membawa sepedaku ini hingga Wonogiri. Entah mengapa badan di kala saat itu tidak merasa capek hhehe..dasar anak muda gila.

selamat datang di kota wonogiri..hutan pinggir waduk..merindingg..

Setelah hampir seharian hanya beristirahat keesokan harinya tepatnya sore hari, saya mencoba mengayuh seli menuju waduk Gajahmungkur nan tersohor itu. Waduk yang mengendalikan aliran air dari sungai Bengawan Solo..riwayatmu kinii..(malah nyanyii..jaaannnn). Mencari jalan alternatif yang saya tidak tahu. Asal masuk kampung, kemudian tanya-tanya, blusukan di jalan setapak dan akhirnya menemukan hutan di samping waduk. Kayaknya mau sampai nih,tapi belum terlalu yakin. Setelah memutari hutan ternyata kawasan waduk telah kelihatan. Tampak banyak pemuda-pemudi Indonesia sedang ngabuburit di kawasan yang oleh orang Wonogiri ini lebih terkenal dengan kawasan “proyek”. Terlihat di ujung jalan ada suatu mirip dermaga atau jalan menuju PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). Tapi sayang pintu pagarnya dikunci dan anehnya ada orang yang bisa masuk. Ternyata pintu tersebut dapat dikelabuhi dari samping, tanpa membuka pagar. Akhirnya saya gendong selinya untuk masuk melalui pintu samping. Take a picture of my folding bike,sebagai kenang-kenangan bahwa ini seli pernah sampai Wonogiri biar ga disebut no pict is hoax hhehe. Sore itu agak mendung karena memang efek musim penghujan. Akhirnya setelah magrib saya putuskan untuk pulang dan mempersiapkan pulang besok. Saya berencana bersepeda dari Wonogiri hingga Semarang. Tapi itu masih dalam taraf rencana sih.

di luar pagar ga bisa masuk..tapi eittzz..taraaaa..masuk juga dah..

tampak dari kejauhan PLTA waduk gajahmungkur..hmmm..pengen nyemplung aja nih.

Keesokan harinya, saya bangun pukul 04.45 WIB dan masih belum ada rencana gowes menuju Semarang. Gila aja, sendirian dengan sepeda lipat menempuh jarak hampir 150km? Sejenak merenung sambil memandangi sepeda lipat beserta pannier yang tampak telah terpasang. Saya kemudian bertekad untuk mencoba gowes dari Wonogiri menuju Semarang. Kebetulan hari itu tanggal 17 Agustus dan sekalian mempersembahkan gowes ini demi para pahlawan. MERDEKAAAAAA!!! Bener ya?? Tiiittt ya?? Gowes ampe rumah ya?! Pertanyaan itu seolah ingin melemahkanku. Setelah pamit ma eyang dan saudara, akhirnya saya memantapkan diri gowes. Sebelum gowes saya sempat menengok kantong saya, berharap menemukan uang yang cukup untuk bekal di jalan jika saya ga kuat bisa naik bis dan melipat sepeda. Kurogoh sarung celana..eh maksudnya saku celana dan mengeluarkan uang. Hanya tersisa Rp.26.600 dan tidak ada lagi. Ingin minta sangu eyang tapi bukan sifatku minta sangu karena slama ini ga pernah, mo pinjem sodara tapi malu. Ya sudahlah hanya dengan uang seadanya ini semoga Tuhan merestuiku hingga Semarang. Ku awali kayuhanku di pagi yang masih sepi dan teringat saya belum sarapan. Jika dipikir logika saat itu, saya harus mengayuh minimal sampai Solo. Karena uang saya hanya cukup untuk naik bis dari Solo menuju Semarang. Setelah mengayuh hingga Sukoharjo, saya berencana sarapan di Sop Pak Min itu, tapi karena kepagian dan masih tutup. Tepat pukul 08.00 WIB saya sampai juga di kota Solo. Masih dengan perut lapar akhirnya saya tertidur (hehh..ndenggg..tangi,nek kuwe turu sing numpak pit tekan semarang sopo?? | oiyoo ding..) Ga jadi tertidur meskipun komplikasi lapar dan mengantuk menjadi satu. Inilah yang menjadi pengalaman berharga bagi saya, saya menjadi takut untuk masuk ke rumah makan. Uang saya pas-pasan,bagaimana nanti jika uangnya kurang atau makanannya terlalu mahal sedangkan perjalanan masih jauh. Ada dua pilihan ketika sampai Solo yaitu saya makan tapi lanjut gowes atau saya ga makan tapi naik bis. Dan saya memutuskan makan daripada sakit, artinya selanjutnya saya harus gowes hingga Semarang. Saya mencari tempat makan yang benar-benar murah. Saya kemudian berpikir bahwa biasanya saya naik motor, uang cukup untuk makan di kelas menengah. Kini untuk makan di pinggiran pun saya harus mikir dulu takut uangnya ga cukup. Ada warung kecil yang barusan buka,saya memberanikan diri untuk masuk. Memesan soto ayam dan teh hangat,ga berani ambil lauk pauk karena skali lagi takut uang ga cukup. Sambil ditanyain orang yang juga makan disitu, “Dari mana mas?” saya pun menjawab “dari wonogiri pak.” Lanjut bapak itu “Wah lumayan juga yaa, mau kemana?”. Dengan spontan saya menjawab “Ke Semarang pak.” Bapaknya agak kaget,kemudian bertanya lagi “Lahh..teman-temannya mana? Dibelakang?” Jawabku lagi “Cuma sendiri pak.” Si bapak lalu tidak meneruskan pertanyaan karena tampaknya sudah terburu-buru, atau mungkin sambil berujar “Dasar wong edan” hhehe. Selesai makan saya langsung menanyakan harga menu sarapan pagi saya dan ternyata hanya habis Rp.5000 saja..yiihhhaaa..(sambil joged kayang,patah-patah dan goyang ngecor). Perjalanan masih panjang dan uang tinggal Rp.20.600, panas semakin menyengat. Mulai menuju arah boyolali dengan jalan sedikit menanjak dan panjang sekali. Kesalahan saya adalah melihat papan petunjuk yang mengatakan bahwa Semarang masih 89 KM lagi. Whaaatt?? Lemes rasanya membayangkan Semarang masih jauh. Berkali-kali saya merasa bosan dengan perjalanan seorang diri, bahkan deretan lagu di hape yang menemani perjalan saya tidak terlalu menarik lagi. Setiap beberapa kilometer mengayuh kemudian saya berhenti, begitu seterusnya. Saat-saat seperti inilah saya harus mampu memotivasi diri sendiri. Disaat saya lelah dan tak berdaya, hanya saya yang dapat menolong diri sendiri. Setelah sedikit merenung sambil ngemil biskuit dan jus jeruk yang saya bawa, saya mulai berpikir (lagi). Cobalah mengayuh untuk beberapa meter saja dan jangan membayangkan ujung perjalananmu. Ingatlah, semua perjalanan di awali oleh sebuah langkah kecil. Tak ada sesuatu yang tidak mungkin. Mencoba kembali mengayuh, walaupun masih beberapa kali hampir terlunta karena jalan yang nanjak..turun..nanjak lagi..susahnya. Pukul 12.00 WIB sampailah di Salatiga. Di kota ini saya menyempatkan untuk makan bakso ABC nan legendaris gitu..baksonya yang istimewa di antara segala bakso di dunia,karena baksonya bulaaaat (praaaakkkkk...dirungok’ke tenanan tak kiro baksone piye ngono,jebul yo podo wae bunder leeee thooleee). Lagi-lagi saya ga berani masuk karena takut harganya kemahalan. Saya kemudian mengirim pesan singkat alias semeses ke teman kantor dan memastikan harga bakso ABC dibawah Rp.20.600 hhehe. Setelah memberanikan duduk, pesan dan memakannya kemudian beranjak membayar saya terkaget lagi. Ternyata harganya di bawah Rp.10.000..yihaaaaa..(goyang ngesot-ngesot..ndlosor-ndlosor). Perjalanan semakin panas dan menantang. Kesalahan saya yang kedua adalah membaca papan penunjuk arah yang mengatakan bahwa Semarang masih 49 KM lagi. Semmmmm..udah gowes lamanya minta ampun hanya berkurang 40 km?? Lanjutkan saja deh..walaupun tanjakan di Bawen membuatku agak sedikit mual. Perlahan tapi pasti, tanpa memaksakan diri. Tiba juga saya di Ungaran, kemudian bertemu bapak-bapak yang naik sepeda gunung. Sempat saya mengklingklong pake bel sepeda saya(hal yang slalu saya lakukan jika berpapasan dengan pesepeda dimanapun dan siapapun) Dia kemudian putar arah menghampiri saya dan bertanya-tanya darimana serta mau kemana. Mengajakku gowes bareng suatu saat dan dia mengajak skalian pulang lewat jalan di belakang kota Ungaran. Karena searah, saya pun mengiyakan ajakan orang yang belum saya ketahui namanya. Dia tampaknya sangat terlatih dan sering sekali bersepeda. Setelah beberapa saat saya mengayuh dan mencoba melihat ke belakang,”lhoh..bapak tadi kemana ya??” (atau jangan-jangan hantu kali). Akhirnya saya menunggu sebentar dan tampaklah dia sedang tergopoh-gopoh. “Aduhh..saya mungkin udah kecapekan nih, tadi berangkat sempet ke ambarawa”. Saya pun Cuma tersenyum, mengiyakan apa yang bapak tadi ucapkan. Di pinggir jalan tampak ada warung kucing, dia memintaku untuk beristirahat sejenak. Sambil minum teh hangat di teriknya panas siang yang beralih sore. Tanpa berlama-lama saya pun pamit melanjutkan perjalanan. Mengayuh sendiri dan akhirnya tiba di rumah dengan selamat pada pukul 14.30 WIB. Muka hitam dan berkeringat,sampai ibuku tak habis pikir ngidam apa aku nak punya anak senekad kamu..ckckckck. Ibu segera menelepon ke eyang jika saya selamat sampai rumah dengan sepeda. Hhehe. Perjalanan panjang yang membuatku sangat menikmatinya. Tanpa ada yang mengatur ritme perjalananku, mengatur sendiri kemampuanku dan capek-capek sendiri. Ada hal yang membuat saya mengambil hikmah edisi gowes tapak tilas ini. Pertama, terkadang ga selamanya kita bisa merasakan apa yang biasa kita rasakan. Seperti halnya tadi saya masuk ke tempat makan saja ga berani karena takut uangnya ga cukup. Ketakutan saya tadi menjadi pelajaran untuk berpikir sejenak mengenai arti kata bersyukur. Apapun itu, bersyukurlah atas apa yang kau dapatkan. Kedua, memotivasi diri itu perlu. Sempat saya hampir putus asa karena dihajar panas, tanjakan, lapar dan lelah. Mencoba untuk berpikir sejenak dan sedikit rileks. Menyemangati diri sendiri agar semangat memenuhi tangki jiwa yang mulai kosong. Ketiga, tak ada sesuatu yang tak mungkin. Jika kita berpikir bahwa hal tersebut adalah mustahil berarti itu benar. Tapi akan salah ketika kita tak mau mencoba dan berusaha. Seperti halnya kayuhan sepeda yang slalu ke depan, membuat kita jangan terlalu melihat ke belakang dan mencoba fokus ke depan. Fokus ke depan bukan berarti kita hanya memperhatikan lurus saja, sesekali cobalah melihat di sekitar. Sehingga kita tidak terlalu cepat melewati hidup karena terdapat hal-hal yang menarik ketika kita menikmati sekitar kita. Berbagi terhadap sesama, sekecil apapun adalah berbagi. Bukan masalah banyak atau sedikit tapi kesediaan kita berbagi.

sampai di kota boyolali...menanti teriknya sang mentari di kebun kopi salatiga-bawen..

Selasa, 08 November 2011

jodoh (kerja) ku..

Apa yang akan saya tulis ini mungkin bagi beberapa orang hanya sebuah omong kosong. Masa iya sebuah pekerjaan dikaitkan dengan jodoh. Karena jika kita membahas jodoh ujungnya pasti galau,kalau udah galau pasti ujungnya melow. Tapi saya cuma mau menguraikan pendapat saja atas apa yang saya lihat,dengar dan rasakan (jadi judul lagunya Sheila On 7 dong nih). Setiap orang pasti memiliki cita-cita atas apa yang dia lihat dan mengimajinasikannya kepada sebuah harapan. Mulai dari yang klasik pengen jadi dokter hingga jadi tentara,jadi eksekutif muda atau bisnis,VIP dan sebagainya (mas jual tiket kereta api ya?) hingga menjadi pengusaha yang sukses. “Ingin Sukses” adalah menjadi motivasi orang-orang dalam bekerja. Terkadang dalam proses menemukan sebuah pekerjaan kita terdapat beberapa pilihan. Terlepas dari pekerjaan itu sesuai atau ga, apa yang kita impikan atau tidak. Kita ga akan pernah tahu sejauh mana kemampuan kita jika ga pernah mencoba. Ibarat katak dalam tempurung, si katak hanya tahu isi dalam tempurung aja. Masih mending kalo tempurungnya mlumah,coba kalo tempurungnya nutup kan gelap banget thu. Kecuali kalo di dalam tempurung cluster, ada home theatre, AC, TV kabel, kulkas dan springbed (lhaa..pho apartemen jonnn). Pepatah di kalimat pertama tersebut pernah saya alami. Setelah membaca cerita Working Story Part I : My First Job is My Love.. mungkin sudah mengetahui bahwa saya bekerja pada sebuah KAP (Kantor Akuntan Publik) di Semarang. Saya berkomitmen untuk mencari kesempatan lain dan memutuskan resign dari kantor tersebut. Tepatnya adalah di akhir penghujung 2010 di bulan Desember, merupakan terakhir kali saya ngantor. Saya resign bukan karena sudah mendapatkan pekerjaan baru, bahkan sebaliknya saya belum mendapatkan pekerjaan baru. Berarti sementara akan menganggur ya? Yaakk.bener sekali,saya memutuskan untuk langsung resign karena takutnya jika saya menunda keputusan saya untuk resign hingga awal tahun, kemungkinan akan diberikan proyek audit baru dan dipastikan kemungkinan resign semakin sulit. Dan resign saya pun barengan dengan teman saya sekantor, Vin Feri Chorniawan atau akrab dipanggil ucup (tooossss sik cuppp..). Memasuki tahun baru dengan status baru tanpa pekerjaan alias pengangguran. Mari kita jangan berdiam diri saja,beranjak dan kita mencoba kesempatan lain. Berawal dari job fair dan job fair,saya mencoba mengadu nasib dengan jutaan umat lulusan sarjono dan sarjoni. Tuhan sangatlah baik banget, di bulan pertama saya diberi kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi calon internal auditor. Setelah lolos psikotest dan interview tahap I,akhirnya mendapatkan panggilan ke Jakarta untuk interview user sebuah perusahaan alat berat terkemuka Uni*ed Trac*or. Pengalamanku interview user yang pertama kali,gugup,keringat dingin dan serba ga enak. Dihadapkan dengan kepala tim audit plus dua supervisornya jadi total tiga orang dengan meja kecil di depan. Saya suruh memperkenalkan diri dengan bahasa inggris, dicerca dengan segala pertanyaan mengenai pengalaman saya di KAP, belum selesai menjawab pertanyaan sebelumnya langsung dihajar pertanyaan berikutnya. Arrggghhhhh..Cuma karena nervous semua yang telah saya persiapkan gagal total. Terima kasih Tuhan kali ini aku gagal. Kemudian di bulan kedua saya mencoba peruntungan kembali melalui job fair yang diadakan oleh UGM, dan Tuhan memberikan kesempatan lagi. Dengan posisi sama, sebagai calon internal auditor sebuah perusahaan financial tiga huruf yaitu FBI (silahkan di putar antara tiga huruf tersebut). Setelah lolos psikotest dan interview tahap I akhirnya langsung dapat panggilan user interview ke Jakarta lagi. Sebelumnya teman saya sudah lolos diterima ketika mengikuti job fair di Semarang. Sehingga saya sedikit tahu mengenai seputar pertanyaan yang akan diajukan, saya sengaja mencari informasi mengenai perusahaan yang saya lamar ini. Mulai dari perusahaan berbasis leasing, apa itu jasa-jasa yang ditawarkan di kombinasikan dengan pengalaman-pengalaman kasus. Saya saat itu singgah di rumah om saya di Bogor dan naik KRL (pengalaman pertama naik KRL) menuju gedung di dekat stasiun Gambir. Langsung menuju gedung dan bertanya mengenai kantor yang saya tuju. Setelah itu lalu bertemu dengan dua orang Teamleader kemudian saya dibawa ke lantai 16. Disana mereka membabatku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah saya prediksi sebelumnya. Jawaban saya pun tepat sasaran bahkan lumayan pas,karena mungkin sudah belajar menghafalkan materi itu. Sampai-sampai mereka sempat bingung ingin menanyakan apalagi kepada saya. Sesaat saya sempat berpikir bahwa saya telah melakukan kesalahan. Mereka pasti akan heran karena saya menjawab dengan lugas dan sangat perfect. Sudah ada firasat kalo kali ini kemungkinan saya gagal. Sebelumnya disuruh menunggu di ruang tunggu, mengenai kelanjutan dari hasil interview. Tiba-tiba diberi tahu kalo saya boleh pulang dan keputusan selanjutnya akan diberitahukan melalui telepon. Walaupun saya ga percaya akan hal tersebut tapi apa boleh buat saat itu saya harus balik. Masa iya saya nangis disitu dan merengek minta nungguin hasilnya hhehe. Dan seperti yang diprediksi saya sepertinya ga lolos.

Akhirnya saya balik lagi ke Semarang untuk melanjutkan idup (emang slama ini ga idup yaakk??) Tapi ga langsung berleha-leha karena ternyata mendapatkan panggilan kerjaan lagi. Kali ini sebuah perusahaan Nasional yang bergerak di bidang farmasi. Kali ini posisi yang dilamar adalah Branch Administration Officer dan Staf Internal Auditor. Jadi menjadi kepala admin di cabang (mencoba meraba dari artinya hhehe) atau jadi pemeriksa internal perusahaan. Sebenarnya saya kurang sreg di posisi ini,tapi coba dulu deh. Sebelumnya diadakan psikotest di salah satu gedung Atmajaya jogja. Saya mendapat gelombang 3 yang dijadwalkan psikotest pukul 14.00 WIB siang. Saya melihat seisi ruangan yang ternyata ada puluhan yang melamar dan saya hitung kira-kira terdapat seratus saat gelombang itu. Total ada 4 gelombang, jika dihitung per gelombang 100 orang berarti total ada 400 orang yang melamar di perusahaan ini. Setelah psikotest, akhirnya saya menunggu selama dua minggu. Karena katanya ibu berkacamata tersebut adalah pengumuman hasil psikotest dan untuk diwawancara adalah dua minggu. Ternyata saya lolos dan diundang untuk interview langsung di pabriknya daerah sukoharjo. Setelah bertemu Personal Manager yang saya tahu ternyata dari pihak distributor tunggal perusahaan tersebut. Dengan rentetan pertanyaan yang beruntun,akhirnya wawancara pun selesai sudah. Kemudian selang dua hari saya dihubungi pihak perusahaan untuk kembali ke sukoharjo dan melakukan Medical Check Up di rumah sakit yang telah ditunjuk. Mulai dari darah, rontgen hingga tes urine semuanya di cek. Saya agak bingung kenapa MCU dilakukan tanpa kita tahu sudah diterima atau belum. Keesokan hari kemudian di telepon untuk kembali menjalani MCU di poliklinik khusus milik perusahaan. Busseeett..kenapa ga skalian kemarin aja yakk. Duhhhhh.. Tidak ada kabar apa-apa hanya tiba-tiba ada surat datang dengan nama perusahaan yang beda dengan perusahaan di Sukoharjo kemarin. Ternyata itu perusahaan distributor yang saya ceritakan dan saya diterima sebagai Management Trainee-Branch Administration Officer. Setelah itu perusahaan tersebut menelepon untuk memastikan saya menerima jabatan sebagai MT-BAO tersebut. Tak ada salahnya di coba, mungkin Tuhan telah merencanakan ini semua. Merencanakan untuk saya belajar dari kesempatan ini. Jika memang saya bisa berkembang disini kenapa tidak. Singkatnya pada awal April saya berangkat ke Jakarta untuk melakukan trainning. Pertama kalinya saya benar-benar bekerja di Jakarta dan jauh dari orang tua. Setelah trainning ternyata saya ditempatkan sementara untuk beberapa bulan belajar di Bekasi. Setelah menjalani beberapa bulan di Bekasi terakhir saya diminta belajar ke Bangka Belitung. Yaakk..luar jawa dan hal ini bukan menjadi keraguan bagi saya. Mencoba belajar hidup di luar jawa. Penuh tantangan dan penyesuaian,tidak semudah yang dibayangkan. Terlebih dengan pekerjaan yang sebenarnya ada yang kurang berkenan di hati. Akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri semua perjalanan ini. Anggap saja saya kurang siap atas apa yang terjadi dan untuk tidak mencoba menyalahkan keadaan atau apapun itu. Percayalah Tuhan ga akan pernah berhenti menyertai kita. Sebenarnya saya malu terhadap Tuhan, memohon pekerjaan dan saya seolah-olah menyiakan kesempatan itu. Walaupun Tuhan tahu apa yang menyebabkan saya memutuskan untuk berhenti. Belajar untuk mencoba lebih memandang semua ini dari sudut yang berbeda. Terima kasih Tuhan, kiranya Tuhan masih memberi saya kesempatan untuk berusaha. Tak lama setelah saya resign dari masa trainning, Tuhan memberikan pekerjaan yang baru. Kali ini pekerjaan yang sangat saya inginkan. Seorang internal auditor di salah satu perusahaan farmasi dan distributornya. Masih harus banyak belajar lagi dari pekerjaan ini. Saya tidak tahu berapa lama saya disini, jika memang saya bisa berkembang disini maka tak ada salahnya saya mencurahkan tenaga dan pikirkan untuk perusahaan ini. Tuhan..saya tidak tahu apa rencanaMu..tidak tahu apa yang saya hadapi tapi saya percaya bahwa saya hanya perlu melakukannya dan menyerahkan segala kekhawatiran kepadaMu. Selamat malam Tuhan.. :)